INDRAMAYU, – Kericuhan mewarnai laga Final Piala Bupati Indramayu 2026 yang berlangsung di Stadion Tridaya Indramayu, Jawa Barat, Selasa (23/6/2026).
Pesta sepak bola yang seharusnya menjadi ajang sportivitas justru tercoreng oleh aksi memalukan! Jatibarang memang berhasil membungkam Kandanghaur dengan skor telak 3-0, namun kemenangan tersebut langsung ternoda oleh kericuhan brutal antar pendukung.
Entah apa yang ada di pikiran para suporter, hingga stadion yang seharusnya menjadi tempat hiburan rakyat berubah mencekam layaknya medan perang karena ego yang tak terkendali.
Insiden tersebut pecah sesaat setelah pertandingan yang mempertemukan tim Kecamatan Jatibarang melawan Kecamatan Kandanghaur berakhir. Dalam laga pemungkas itu, Jatibarang keluar sebagai juara setelah menang telak dengan skor akhir 3-0.
Pantauan di lokasi, begitu wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, sekelompok suporter langsung merangsek masuk ke dalam lapangan sembari menyalakan flare.
Kelompok suporter tersebut kemudian berlari menghampiri tribun suporter lawan yang diduga kuat untuk melakukan provokasi. Akibatnya, aksi saling lempar antarsuporter di dalam stadion pun tak terhindarkan.
Kejadian ini pun menjadi catatan hitam tersendiri, mengingat insiden serupa juga pernah terjadi pada perhelatan turnamen yang sama di tahun sebelumnya. Merespons insiden tersebut, Plt Ketua Harian PSSI Kabupaten Indramayu, Carkaya, sangat menyesalkan kericuhan yang menodai partai final hari ini. PSSI Indramayu berjanji akan melakukan evaluasi secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Pastinya, kami akan lakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang,” kata Carkaya kepada awak media seusai pertandingan.
Carkaya menjelaskan, pihak panitia sebenarnya telah melakukan upaya mitigasi sebelum laga. Namun, tingginya animo penonton yang datang tidak sebanding dengan kapasitas stadion yang terbatas. Kondisi tersebut membuat sejumlah suporter masuk dan menonton dari pinggir lapangan.
Hingga akhirnya, saat pertandingan berakhir mereka berlarian menghampiri suporter lawan dan terjadi kericuhan. “Ini dinamika karena fanatisme dalam sepak bola yang juga sangat tinggi. Tapi kami tetap tidak membenarkan hal tersebut,” tutur Carkaya.
Carkaya menambahkan, bahwa poin-poin evaluasi akan dibahas secara detail setelah turnamen selesai. Salah satu opsi yang muncul adalah memindahkan lokasi turnamen berikutnya.
“Nanti kita evaluasi, salah satunya mungkin menggelar turnamen dengan tuan rumah di wilayah Indramayu Barat,” ujarnya.
Di sisi lain, kericuhan tidak sampai meluas setelah aparat keamanan yang bersiaga di lokasi bergerak cepat meredam situasi di dalam stadion. Petugas bahkan langsung mengamankan beberapa suporter yang diduga menjadi provokator.
Kabag Ops Polres Indramayu, Kompol Eko Susilo menerangkan, bahwa begitu ada upaya dari suporter yang nekat masuk ke lapangan, personel gabungan langsung dikerahkan untuk melakukan pengamanan.
Namun karena jumlah massa yang terlalu banyak, aksi saling lempar sempat tidak bisa dihindari.
“Awalnya memang karena adanya provokasi. Iya tadi kami juga amankan suporter diduga provokator, tapi sudah kita kembalikan lagi,” kata Eko di lokasi.
Eko menegaskan, pihak kepolisian sedikitnya mengerahkan 200 personel untuk mengawal laga final ini. Upaya mitigasi pun sebenarnya sudah dilakukan sejak sebelum laga dimulai, mulai dari pemisahan tribun suporter kedua tim hingga larangan bagi pedagang untuk menjual air mineral dalam kemasan botol di area stadion karena diprediksi bisa memicu aksi saling lempar tersebut.
“Tapi alhamdulillah situasi sekarang sudah kondusif,” ujarnya.
Guna menghindari bentrokan susulan di luar area stadion, polisi menerapkan skema rekayasa pembubaran massa.
Pendukung dari tim Kecamatan Kandanghaur diminta untuk meninggalkan area Stadion Tridaya terlebih dahulu. Setelah situasi dinilai aman, giliran pendukung dari Kecamatan Jatibarang yang diperbolehkan pulang dengan mendapatkan pengawalan ketat dari kepolisian.
