Kondisi ini sudah berlangsung sejak 2021. Pantauan di lokasi, Selasa (4/8/2026), retakan dinding rumah warga menjadi pemandangan lumrah. Rumah milik Pak Harun yang paling dekat dengan tanggul bahkan nyaris roboh. Tanah belakang rumahnya sudah hilang turun 2 meter.
Warga hanya bisa bertahan dengan fondasi darurat dari tumpukan karung berisi tanah yang ditopang bambu.
"Sampai pada enggak bisa tidur," ungkap Ketua RW 4 Desa Sukagumiwang, Karman (54).
Yang mengejutkan, di musim kemarau seperti sekarang, tanah masih terus bergerak. Dalam sebulan terakhir saja ambles 1-2 meter. Tingkat penurunan tanggul bahkan sudah lebih dari 5 meter.
Infrastruktur pun hancur. 5 titik paku bumi dalam radius 400 meter hancur tinggal puing, padahal sudah 2 kali diperbaiki. Tanggul darurat dari BBWS Cimanuk-Cisanggarung juga jebol.
Total 373 rumah di RW 4 terancam, 40 rumah diantaranya dalam kondisi paling darurat karena berada di RT 1 dan 2 yang berbatasan langsung dengan tanggul.
Saat musim hujan, warga siaga penuh. Hujan adalah alarm darurat. Jika air Cimanuk meluap, mengungsi ke rumah kerabat sudah jadi rutinitas tahunan mereka.
Hingga berita ini diturunkan, warga berharap pemerintah segera turun tangan sebelum ada rumah yang benar-benar roboh tergerus tanah ambles.
Sumber: Bandung.Kompas.com
