Kekeringan di Indramayu Makin Parah, Debit Air Bendungan Cipancuh Nol, Ribuan Hektare Sawah Terancam


INDRAMAYU – Kekeringan di Indramayu semakin mengkhawatirkan. Bendungan Cipancuh di Kecamatan Haurgeulis kini dilaporkan men
galami kekeringan total dengan debit air mencapai angka nol. 

Kondisi tersebut membuat ribuan petani di wilayah Indramayu bagian barat harus berjuang memenuhi kebutuhan air untuk mengairi sawah yang tengah memasuki musim tanam gadu.

Selama tiga hari terakhir, dasar Bendungan Cipancuh hanya menyisakan beberapa titik genangan air. 

Bahkan, sebagian warga memanfaatkan kondisi tersebut untuk mencari ikan di area bendungan yang telah mengering.

Situasi ini menjadi pukulan berat bagi petani, terutama di Kecamatan Haurgeulis yang selama ini sangat bergantung pada pasokan air dari Bendungan Cipancuh. 

Kini, satu-satunya harapan mereka hanyalah aliran Sungai Cipunegara yang debitnya juga terbatas.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, H. Sutatang, mengatakan laporan yang diterimanya menunjukkan Bendungan Cipancuh sudah tidak lagi mampu menyuplai kebutuhan irigasi.

Menurutnya, kondisi tersebut sangat memengaruhi pertumbuhan tanaman padi yang saat ini berada pada fase yang berbeda-beda.

Sebagian tanaman sudah memasuki fase vegetatif menuju generatif atau mulai membentuk anakan. 

Sebagian lainnya telah memasuki fase bunting atau primordia, yakni masa menjelang munculnya malai padi. 

Bahkan, masih ada lahan yang baru memasuki masa tanam pertama.

"Kecamatan Haurgeulis merupakan wilayah yang selama ini mendapat pasokan air langsung dari Bendungan Cipancuh. Ketika bendungan mengering, otomatis petani hanya mengandalkan Sungai Cipunegara," ujarnya.

Sutatang menjelaskan, dampak kekeringan di Indramayu tidak hanya dirasakan petani di Haurgeulis. Sejumlah kecamatan lain di wilayah Indramayu Barat juga bergantung pada suplai air dari Sungai Cipunegara.

Kondisi tersebut diperkirakan akan berdampak terhadap produktivitas padi pada musim tanam gadu tahun ini apabila tidak segera ada tambahan pasokan air.

Sebagai langkah darurat, pemerintah telah menambah aliran air dari Bendungan Salam Darma sebesar tiga meter kubik untuk wilayah Indramayu Barat.

Tambahan tersebut diperkirakan baru mampu memenuhi sekitar 25 persen kebutuhan air irigasi bagi lahan pertanian seluas sekitar 10.673 hektare yang saat ini mengalami krisis air.

Meski membantu, pasokan tersebut dinilai masih jauh dari cukup mengingat luasnya area persawahan yang membutuhkan irigasi.

Menghadapi kondisi tersebut, KTNA Kabupaten Indramayu mengimbau petani agar menggunakan sumber air alternatif seperti pompa sumur dalam maupun sumur pantek untuk mempertahankan tanaman yang sudah terlanjur ditanam.

Sementara bagi petani yang belum mulai bercocok tanam, disarankan untuk menunda proses tanam hingga kondisi pasokan air kembali normal.

"Jangan memaksakan tanam apabila air tidak mencukupi. Prioritaskan lahan yang sudah ditanami agar tidak mengalami puso," kata Sutatang.

Selain itu, KTNA juga meminta pemerintah segera menambah pasokan air ke wilayah Indramayu Barat. 

Upaya lain yang diharapkan adalah pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca atau hujan buatan apabila kondisi kemarau terus berlangsung.

Bendungan Cipancuh Bergantung Sepenuhnya pada Air Hujan

Petugas Operator Bendungan Cipancuh, Derry, menjelaskan bahwa Bendungan Cipancuh merupakan bendungan tadah hujan yang tidak memiliki suplai air langsung dari sungai.

Seluruh cadangan air bendungan berasal dari curah hujan. Akibatnya, hampir setiap musim kemarau bendungan mengalami penyusutan debit secara signifikan hingga akhirnya mengering.

Kondisi tersebut berbeda dengan Bendungan Sadawarna yang memiliki pasokan air dari Sungai Cipunegara sehingga tetap memperoleh aliran meski musim kemarau.

Derry mengungkapkan, saat musim hujan Bendungan Cipancuh mampu menampung air dalam jumlah besar. 

Namun berdasarkan data terakhir, sejak 2 Juli 2026 debit air bendungan telah mencapai angka nol.

Kini hanya tersisa beberapa genangan air di bagian dasar karena kontur bendungan yang tidak rata.

"Kami mohon maaf kepada para petani karena saat ini bendungan benar-benar tidak dapat lagi menyuplai kebutuhan air irigasi," ujarnya.

Meski kini mengering, Bendungan Cipancuh dinilai masih memiliki peran penting dalam mendukung sektor pertanian Indramayu selama musim tanam gadu.

Menurut Derry, penerapan sistem pembagian giliran air membuat bendungan mampu melayani area persawahan yang jauh lebih luas dibanding target awal.

Ia menyebut, jika target pengairan hanya sekitar 1.000 hektare, pada praktiknya Bendungan Cipancuh mampu mengairi hingga sekitar 5.000 hektare sawah.

Namun, tidak semua petani dapat menikmati distribusi air secara merata. Sawah yang berada di lokasi paling jauh menjadi wilayah yang paling terdampak akibat keterbatasan debit air.

Dengan kemarau yang diperkirakan masih berlangsung, harapan petani kini tertuju pada tambahan pasokan air dari pemerintah maupun datangnya hujan agar ancaman gagal panen akibat kekeringan di Indramayu dapat diminimalkan.


Sumber : Radar Cirebon.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama