Pesta Ikan di Tengah Keringnya Waduk Cipancuh Indramayu

 


INDRAMAYU - Matahari sore di Desa Situraja, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Selasa (4/8/2026), memantulkan cahaya pada sisa-sisa air di dasar Waduk Cipancuh. Waduk seluas 700 hektare itu kini tak lagi menampung hamparan air yang dalam. Sebaliknya, yang terlihat adalah daratan yang menyembul dan kerumunan ratusan warga yang tengah berpesta di atas lumpur.

Surutnya air waduk akibat kemarau panjang tahun ini menghadirkan dua realitas yang kontras. Di satu sisi, ia menjadi panggung kegembiraan bagi warga yang berburu ikan. Namun di sisi lain, retakan tanah di dasar waduk menjadi sinyal kecemasan bagi para petani yang menggantungkan hidup pada aliran irigasinya.

Fenomena ini mendadak viral di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Kabar tentang menyusutnya air waduk memicu gelombang kedatangan warga. Dengan berbekal jala dan alat tangkap sederhana, mereka turun ke titik-titik air yang tersisa di bagian tengah. Ikan dan udang yang terjebak di sana menjadi sasaran empuk. Tak sedikit warga yang pulang dengan keranjang penuh hasil tangkapan.


Suasana di tepi waduk pun berubah layaknya pasar malam dadakan. Tak hanya pemburu ikan, banyak keluarga datang sekadar untuk menggelar tikar dan menikmati pemandangan unik ini. Kehadiran massa ini membawa rezeki nomplok bagi para pedagang kaki lima. Bahkan, transaksi jual beli ikan terjadi langsung di lokasi; para pemburu menjual hasil tangkapannya kepada pengunjung yang berminat.


Yoni (32), seorang warga setempat, mengaku hampir setiap hari datang ke waduk sejak air mulai menyusut. Baginya, momen ini adalah tradisi tahunan yang selalu dinanti, meski tahun ini terasa berbeda.


"Alhamdulillah dapat banyak ikan, memang momen seperti ini sudah terjadi setiap tahun, tapi kayaknya tahun ini yang paling ramai," ujarnya.


Sebagian ikan yang didapat Yoni dibawa pulang untuk lauk keluarga, sementara sisanya ia jual ke pasar untuk menambah uang dapur.


Lain lagi cerita Mukti (31). Ia datang ke Waduk Cipancuh karena rasa penasaran setelah melihat unggahan yang berseliweran di lini masa Facebook.


"Saya ikut-ikutan saja karena diajak teman, awalnya saya dikirimin video unggahan Facebook dari teman saya, waduknya udah surut dan banyak warga yang datang cari ikan," katanya.


Sementara bagi Arief (25), keramaian di dasar waduk ini adalah tontonan yang menghibur di tengah cuaca panas yang menyengat. Ia memilih duduk santai menyaksikan keriuhan warga yang berlomba melempar jala.


"Senang lihat orang-orang pada berlomba-lomba dapat ikan yang banyak, ini jadi hiburan dadakan buat saya," tuturnya.


Namun, di balik tawa dan keriuhan itu, ada bayang-bayang krisis yang nyata. Waduk Cipancuh bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan urat nadi bagi ribuan hektare sawah di wilayah Gantar, Haurgeulis, Kroya, hingga Anjatan. Saat airnya tak lagi mampu dipompa secara optimal, sektor pertanian pun tercekik.

Darnita (50), seorang petani dari Kecamatan Anjatan, mulai merasakan dampaknya. Sawah yang digarapnya kini mulai meranggas. Ia dan petani lainnya terpaksa harus berebut sisa-sisa air dengan bantuan mesin pompa dari saluran irigasi yang debitnya terus merosot tajam.


Pemerintah daerah sebenarnya tidak tinggal diam. Upaya menambah pasokan air telah dilakukan dengan mengalirkan air dari Bendungan Salamdarma. Namun, langkah itu ibarat membasuh luka besar dengan setetes air; kebutuhannya jauh lebih besar daripada pasokan yang tersedia.


"Debitnya sudah ditambah sama pemerintah dadi Bendungan Salamdarma, tuh, tapi airnya masih terbatas karena yang butuh air juga banyak, ada ribuan hektare," ungkap Darnita dengan nada getir.



Sumber : Detik.com 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama